Kemenperin Fasilitasi Pembangunan Politeknik Petrokimia di Banten

banner 468x60


Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kemenperin dengan Asosiasi dan Industri Petrokimia tentang Pembangunan dan Penyelenggaraan Politeknik Industri Petrokimia di Banten, Senin (11/3/2019).*

JAKARTA,
(KB).-
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan
pengembangan industri kimia di dalam negeri agar semakin berdaya saing di
kancah global. Salah satu upayanya adalah membangun Politeknik Petrokimia untuk
menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten sesuai kebutuhan dunia kerja saat
ini.

Kemenperin bertekad untuk terus
mendorong penumbuhan industri petrokimia melalui peningkatkan investasi,
sehingga dapat mensubstitusi produk impor dan memacu nilai ekspor. Sasaran ini
perlu ditopang penyiapan para tenaga kerja industri yang kompeten agar lebih
produktif dan inovatif.

Sekretaris
Jenderal Kemenperin Haris
Munandar mengatakan, langkah strategis tersebut sesuai dengan implementasi
peta jalan Making Indonesia 4.0. Apalagi, industri kimia merupakan satu dari
lima sektor yang akan menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 di Tanah Air,
ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (11/3/2019).

Ia mengatakan, pembangunan Politeknik Industri Petrokimia ini akan
berdiri di atas lahan seluas dua hektare yang telah dihibahkan oleh PT Chandra
Asri di Serang, Provinsi Banten. “Politeknik ini merupakan milik bersama demi
kemajuan industri petrokimia di Indonesia,” ujar Haris pada acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kemenperin dengan
Asosiasi dan Industri Petrokimia tentang Pembangunan dan Penyelenggaraan
Politeknik Industri Petrokimia di Banten.

Perjanjian Kerja Sama ini diteken oleh Sekjen Kemenperin dengan 14
pihak yang mewakili asosiasi dan industri petrokimia. Ke-14 stakeholder tersebut,
meliputi Federasi Industri Kimia Indonesia,
INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, PT
Nippon Shokubai Indonesia, PT Mitsubishi Chemical Indonesia, PT Polytama
Propindo, dan PT Asahimas Chemical. Selanjutnya, PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia, PT Trinseo
Materials Indonesia, PT Petro Oxo Nusantara, PT Petrokimia Butadiene Indonesia,
PT Cabot Indonesia, dan PT Pupuk Indonesia.

“Penyelenggaraan politeknik ini harus dilakukan secara bersama-sama antara Kemenperin dengan industri,
mulai dari penyusunan kurikulum, rekrutmen calon mahasiswa, penyelenggaraan
pendidikan, praktik kerja di Industri, hingga penempatan kerja lulusan pada
perusahaan industri,” ujar Haris.

Ia mengatakan, kurikulum
pendidikan Politeknik Industri Petrokimia mengadopsi konsep pendidikan dual
system
 melalui program Skill For Competitiveness (S4C) yang
diadopsi dari Swiss. “Kami modifikasi dengan
konsep 3-2-1, yakni 3 semester belajar di kampus, 2 semester magang di
industri, dan semester terakhir
kembali ke kampus untuk mengerjakan
proyek inovasi terkait industri petrokimia,” ujarnya.

Adapun tiga program studi jenjang D3 yang akan dijalankan, sesuai kompetensi yang dibutuhkan saat ini. Program studi itu, teknologi proses industri petrokimia, teknologi mesin industri petrokimia, dan teknologi instrumentasi industri petrokimia.

“Kami akan mengutamakan pemberdayaan SDM lokal di sekitar perusahaan agar memenuhi syarat kompetensi sesuai kebutuhan industrinya. Artinya, calon mahasiswa dari masyarakat sekitar industri. Kemenperin juga akan memberikan beasiswa sampai lima tahun,” tuturnya.

Politeknik Industri Petrokimia akan dilengkapi dengan workshop dan laboratorium serta teaching factorydengan mesin dan peralatan yang sesuai dengan kondisi di Industri. Dengan begitu, pada saat praktik kerja di Industri, mahasiswa telah memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup dan lulusan yang dihasilkan benar-benar siap kerja. (KO)*



Source link

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
author
Penulis: