Pemuda Pejaten Rintis Budidaya Lele

Tidak ada komentar 6 views
banner 468x60


Pemuda Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu sedang berupaya mengembangkan pembesaran ikan lele dengan menggunakan sistem bioflok. Sistem tersebut merupakan teknologi terbarukan yang kini mulai banyak digunakan.

Banyak alasan mengapa teknologi tersebut, mulai digunakan. Pertama, sistem tersebut bisa dimanfaatkan di luas lahan yang terbatas. Kedua, ramah lingkungan dan ketiga tidak berbau. Hanya menggunakan terpal yang dibuat melingkar dengan ukuran mini, konsep pengembangan lele sudah bisa dijalankan.

Ketua BUMDes Pejaten, Kecamatan Kramatwatu Irpan Ma’arif menceritakan, awalnya pihaknya mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang sebesar Rp 20 juta. Bantuan tersebut dipersilakan untuk digunakan menjadi apapun yang penting bentuknya mendukung ketahanan pangan.

“Terus saya cari di internet dan kebetulan ada yang berpengalaman untuk buat bioflok. Ternyata cocok juga nih, karena memang itu ramah lingkungan dan tidak perlu lahan luas serta enggak bau,” katanya kepada Kabar Banten, Jumat (8/2/2019).

Ia menuturkan, bioflok tersebut bisa digunakan dengan berbagai ukuran. Mulai dari diameter 1 meter, 2 meter hingga 2,5 meter. “Bergantung keinginan. Kalau saya gunakan yang 1,72 meter. Dibuat empat kolam,” ujarnya.

Empat kolam tersebut yang kemudian digunakan menjadi lahan pembesaran ikan lele. Ukuran benih yang diberikan dari dinas tersebut mulai dari 3-4 sentimeter. Namun, sebelum ditanam benih ikan itu lebih dahulu disortir sesuai ukuran. Sebab, ikan lele memiliki sifat kanibal.

“Kami sortirnya selama seminggu itu. Jumlahnya ada 5.500 ekor dan dibagi empat kolam. Nanti kami buat ikan itu sekilo 7-8 ekor ukurannya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, kelebihan bioflok tersebut, juga dalam satu kolam bisa ditanami hingga 1.000 ekor. Sebab, makanan mereka diberikan sehari tiga kali secara rutin. Selain itu, kotoran dan makanan ikan tidak bercampur. “Sehingga, tidak buat mabuk ikan, kami kasih pelet,” tuturnya.

Ke depan, budidaya ikan tersebut, akan dikembangkan di beberapa kampung lain. Untuk saat ini, baru ada tiga desa yang mendapatkan bantuan bioflok, yakni di Kramatwatu, Pejaten, dan Pelamunan. “Nanti kami kembangkan di kampung lain. Saya optimistis, budidaya ikan tersebut, akan berkembang, karena ini sistem terbaru,” katanya.

Dalam sistem tersebut, ujar dia, kendala yang mungkin dihadapi, adalah tentang PH air yang harus stabil antara 6-8. Kemudian, makan yang harus teratur. Sebab, jika ada satu ikan yang mati, maka semuanya akan mati.

Sementara, Kasie Ekbang Kecamatan Kramatwatu Mamak Abror mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan rekan-rekan Desa Pejaten melalui pembesaran ikan bioflok, “Ini sebagai bentuk kemandirian usaha yang bersifat positif dan perlu dukungan semua pihak,” ujarnya.

Ia berharap, ke depan dengan keberadaan usaha yang di lakukan oleh masyarakat Pejaten mampu mendongkrak perekonomian di bidang perikanan melalui bioflok. Kemudian, meningkatkan daya beli untuk menunjang indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten Serang.

“Bioflok ini banyak keuntungannya selain efisien dalam pemanfaatan lahan, pertumbuhan ikan lebih cepat, efisiensi pakan, selanjutnya lebih sedikit dalam penggantian air,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*



Source link

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
author
Penulis: